Jelita menahan napas, berusaha menenangkan diri agar tidak terlihat bingung. Dengan suara tenang, dia menjawab, "Aku dan Xiao Lin tidur di pondok semalam. Aku pikir akan lebih mudah bagi kami untuk mencari tanaman herbal dari sana." Dia sengaja tidak menceritakan bahwa dia sendiri tidak tahu bagaimana bisa berada di pondok itu.

Penduduk lain mulai ikut berbicara. "Kami kira ada sesuatu yang buruk terjadi. Apalagi akhir-akhir ini, ada gosip dari desa-desa sebelah tentang seorang penjahat berkekuatan hebat yang melakukan kejahatan di mana-mana," ujar seorang wanita paruh baya sambil menggelengkan kepala.

"Ya, katanya dia tidak hanya mencuri, tapi juga menculik gadis-gadis cantik, memperkosa mereka, lalu membunuhnya. Para petugas keamanan bahkan tidak mampu menangkapnya!" tambah seorang pria dengan nada tegang.

"Tadi malam, bukankah kita merasakan gempa? Aku yakin ada seseorang kultivator di desa kita," kata seorang pria dengan nada serius. "Karena itu, aku juga merasa cemas saat melihat kondisi rumah Yun Qing."

Mendengar itu, para penduduk di sekitar mulai berbisik-bisik dengan kekhawatiran. Mereka termasuk dalam sedikit orang yang peduli terhadap Jelita dan Lynx. Seorang wanita mendekati Jelita, memegang lengannya erat. "Yun Qing, kamu harus berhati-hati. Kamu sangat cantik, bisa jadi target penjahat itu!"

Jelita tersenyum lemah, mencoba menenangkan orang-orang yang khawatir. "Terima kasih atas perhatian kalian. Aku akan lebih waspada," katanya sambil melirik ke arah Lynx.

Namun, melihat ekspresi tenang Lynx yang seolah tidak terpengaruh, Jelita menahan diri untuk tidak bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah penduduk desa perlahan bubar, Jelita menatap puing-puing rumahnya sekali lagi, lalu berbalik ke arah Lynx. "Ayo, kita keliling desa sebentar," ujarnya sambil menarik napas panjang.

"Kamu yakin? Kita bisa beristirahat dulu kalau kamu mau," kata Lynx sambil memperhatikan wajah Jelita yang tampak sedih.

Jelita menggeleng dengan tegas. "Tidak, aku tidak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan. Lagipula, kita harus segera bersiap untuk perjalanan mencari penduduk Surya. Rumah ini... meski hancur, kenangan Nyonya Yun tetap ada di hatiku."

Lynx mengangguk pelan. "Baiklah, kalau begitu, aku ikut denganmu," jawabnya sambil tersenyum tipis. Mereka pun melangkah pergi, meninggalkan puing-puing rumah itu.

"Ke mana kita sekarang?" tanya Lynx, tatapannya penuh rasa ingin tahu saat Jelita mengajaknya berjalan.

"Aku ingin mengajakmu melihat pasar. Di sana banyak barang menarik yang bisa kita lihat," jawab Jelita, berusaha untuk terdengar santai.

Lynx dapat merasakan ketegangan dalam sikap Jelita yang terlalu kaku. Jelita selalu berbicara dengan sikap berhati-hati, dia menghormati Lynx sebagai kepala suku. Lynx ingin agar Jelita bisa bersikap lebih lepas, seperti saat dia masih hilang ingatan.

Saat melewati sebuah rumah makan, Lynx dapat melihat ekspresi Jelita yang tampak menikmati aroma harum masakan yang datang dari dalam.

"Seingatku, dia belum pernah masuk ke warung makan ini untuk mencoba masakan yang ada. Setiap kali mendapatkan uang, dia selalu menggunakannya untuk membeli obat untukku," batin Lynx, mengenang masa-masa sulit yang telah dilalui.

Dia teringat ketika seorang ibu pedagang pernah memberikan sebungkus makanan untuk Jelita, tetapi dengan tulus, Jelita justru memberikan semua makanan itu untuknya. Lynx menghela napas, menyadari betapa dalam rasa pengorbanan Jelita. "Karena ingatanku kurang baik saat itu, aku menerimanya dengan senang hati tanpa berpikir bahwa dia juga belum pernah merasakannya."

Memikirkan hal itu, Lynx tanpa ragu menarik tangan Jelita untuk memasuki rumah makan. Tempat itu adalah rumah makan terbesar yang ada di desa Lianhua. Meskipun terpencil dan memiliki kepadatan Qi yang sangat tipis, desa itu memiliki tambang batu merah, salah satu bahan membuat artefak, sehingga banyak penduduk dari desa-desa sebelah datang untuk membeli batu merah dan membawanya ke kota.

"Xiao Lin, kita sedang tidak punya uang untuk makan di sini. Apalagi kita tidak menjual apa pun hari ini," katanya, menunduk dengan rasa malu. Dia merasa sedih dan tidak berdaya karena tidak bisa membelikan Lynx makanan yang diinginkannya.

"Pasti Kepala Suku sangat ingin menikmati makanan ini," batinnya, perasaan sedih menyelimuti hatinya.

Lynx menyadari ekspresi ragu di wajah Jelita dan berkata, "Tidak perlu khawatir, kamu bisa percaya padaku," sambil menarik tangannya lebih erat.

Jelita, dengan berat hati dan keraguan, berusaha mempercayai Kepala Suku. Namun, hatinya sulit untuk dibohongi. "Kepala Suku baru saja sadar. Dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk membayarnya? Kalau roti, itu wajar; penduduk di pulau sering membuatnya. Tapi untuk uang, darimana Ketua bisa mendapatkannya?" batin Jelita, kebingungan dan kecemasan mengisi pikirannya.

"Pelayan!" Lynx memanggil seorang pria muda yang sedang melayani pengunjung lain.

Pria itu mendekati Lynx, tetapi saat melihat Lynx dan Jelita memesan, ekspresinya berubah menjadi merendahkan. "Wah, siapa ini? Apa kalian tidak salah masuk tempat?" tanyanya dengan nada menghina, jelas terlihat di wajahnya. Pelayan ini salah satu penduduk desa yang juga menyukai Jelita. Dia membenci Jelita dan Lynx sejak Lynx menghajarnya ketika dia berusaha merayu Jelita.

Lynx hanya tersenyum, menyadari niat pria tersebut. Sementara itu, Jelita merasa sangat malu, hatinya terbakar oleh kebenaran pahit dari kata-kata orang itu.

"Xiao Lin, aku tidak lapar. Bagaimana kalau kita jalan saja dan kembali nanti?" bisiknya pelan, berusaha menghindari situasi yang membuatnya semakin tertekan.

Pelayan yang mendengar bisikan itu semakin berani, seolah yakin bahwa pasangan di depannya memang tidak memiliki uang untuk membayar. Di desa tersebut, siapa yang tidak tahu tentang Xiao Lin dan istrinya, Yun Qing? Seorang suami yang mengandalkan istri, hidupnya jauh dari kata kaya, bahkan bisa dibilang sangat miskin.

"Kamu dengar kan kata istrimu? Sebaiknya kalian keluar segera agar tidak mengganggu tamu lainnya. Kami sedang sibuk sekarang," kata pelayan itu dengan nada menghina, senyumnya penuh ejekan.

Jelita segera bangkit, ingin pergi dari situasi yang memalukan itu, namun Lynx menahan tangannya. "Aku lapar. Kita makan dulu ya. Aku yang akan membayar semuanya. Kamu tidak usah khawatir," kata Lynx dengan tegas, berusaha memberi rasa aman pada Jelita.

Jelita merasa ragu, tetapi dia tidak berani menolak Lynx. "Biarlah, setelah makan nanti, aku akan bicara dengan pemilik rumah makan ini, agar aku bisa kerja apa pun di sini untuk membayar makanan," batin Jelita, bertekad untuk menemukan cara.

Namun, pelayan itu semakin marah melihat Lynx tidak pergi. Dengan sengaja, dia mengangkat suaranya, "Semua, coba kalian perhatikan pasangan suami istri ini. Mereka sengaja datang makan tetapi tidak punya uang untuk membayar!"

Beberapa orang di sekitar tertawa mendengar ucapan itu, dan seseorang berkomentar, "Nasib buruk punya wajah cantik, tetapi suami tidak bisa diandalkan."

Tawa lainnya menyebar di antara para pembeli, membuat Jelita semakin merasa malu. Dia menundukkan kepala, wajahnya memerah karena rasa malu yang mendalam.

"Apa yang terjadi?" tiba-tiba seorang pria berusia sekitar empat puluhan mendekati mereka. Badannya masih terlihat kuat, dan suara yang tegas memancarkan wibawa. Disampingnya, seorang pria tua mengikuti, wajahnya penuh kerutan namun matanya memancarkan kebijaksanaan.

"Tuan Zhen, Pengurus Liu, mereka berdua ini ingin mengacau di warung kita dan membuat keributan," jelas pelayan itu, wajahnya terlihat cemas.

"Tuan Zhen? Dia adalah bos Zhen yang sering diceritakan para pedagang. Pemilik rumah makan ini yang baru datang dari kota, katanya, bos Zhen ini berasal dari keluarga besar dan terkenal. Aku tidak bisa membiarkan kepala suku mempermalukan dirinya," batin Jelita, merasa cemas.

"Maaf, bos Zhen. Aku dan suamiku hanya ingin mencoba makanan di tempat ini, tapi kami tidak jadi dan akan segera pergi," kata Jelita sambil menarik tangan Lynx dengan lembut, harapannya agar situasi ini segera mereda.

"Mereka hanya mencari gara-gara, Tuan Zhen. Anda mungkin belum mengenal mereka karena baru beberapa hari datang, mereka tidak memiliki uang untuk makan di tempat kita," kata pelayan itu, berani karena melihat Jelita yang panik. Ia berusaha terlihat hebat di depan bosnya, Zhen Huan.